Translate

22 Juni 2019

Kita harus sukses, meski tidak terlahir dari keluarga kaya



anak-desa
Foto : ibnuflp.wordpress.com
Saat kita lahir ke dunia, kita tidak bisa memilih ingin lahir dari keluarga seperti apa, siapa dan bagaimana mereka.
Namun, kita bisa menentukan langkahselanjutnya. Keluarga seperti apakah yang ingin kita bangun kelak, kita bisa memutuskan rantai kesulitan, sehingga cukup sampai disini saja kita merasakan bagaimana diremehkan orang, makan seadanya, bagaimana susahnya mengenyam pendidikan bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga mapan.
Biarkan hati lapang dan ikhlas menerima segala ketentuan dariNya, karena kenikmatan dan kesuksesan hanya untuk orang-orang yang pandai bersyukur.

#1 Ketahuilah, bagaimanapun keadaan keluargamu. Tuhan tidak pernah berniat buruk terhadap hambaNya.

pria sendiri
Foto : www.keyword-suggestions.com
Karena di mata Tuhan, kamu hambaNya yang tangguh. Kamu bisa berjuang lebih keras, berusaha lebih cerdas dan berdoa lebih giat. Tuhan tidak menjatuhkanmu, namun Dia memberimu kesempatan yang besar agar kamu bisa mengejar mimpimu tanpa embel embel nama besar orang tua, kamu bisa mengejar kesuksesanmu dengan berdiri di atas kaki sendiri tanpa berlindung dibawah ketiak keluarga.
Mungkin, tak jarang segala keluhan kerap mewarnai hari, sesekali menyalahkan kondisi keluarga kita untuk setiap kegagalan yang diterima. Kamu tidak bisa mengenyam pendidikan di tempat yang kamu inginkan karena orang tua tidak mempunyai biaya yang cukup untuk itu, kamu tidak mempunyai jaringan dengan orang penting karena orang tuamu bukan siapa siapa dimata mereka, dan banyak hal lain yang kamu lemparkan pada nasib orang tuamu. Bahkan hingga menyalahkan Tuhan.
“Tuhan, mengapa orang tuaku bukan seorang pejabat, dokter atau pengusaha?”
“Mengapa saya harus tumbuh bersama keluarga yang tidak mapan?”
“Mengapa harus mereka?”
Dan sejuta pertanyaan mengapa lainnya, yang membuat dadamu sesak. Seakan tidak ada rasa kebanggaan terhadap orang tuamu yang telah berjuang begitu keras agar kehidupanmu lebih baik dari mereka.
Padahal , siapapun orang tuamu. Entah itu hanya seorang supir biasa, buruh, tukang, kuli atau petani. Mereka tetap seseorang yang hebat. Karena semua perkataan dan do’a mereka akan didengar Tuhan, tanpa melihat jumlah kekayaannya, tingkat pendidikan, profesi apalagi jabatannya. Maka, peliharalah hubungan baikmu dengan orang tua. Hubungan baikmu dengan orang tua akan menentukan besarnya keberkahan hidup yang kamu dapat.

#2 Banyak orang sukses yang berjuang dari nol, lahir dari penderitaan dan cacian.

bill gates
Foto : Wovgo
Pohon yang tumbuh besar itu berawal dari biji yang kecil, gedung tinggi yang dikagumi itu berawal dari sebongkah bata. Proses yang panjang dan tidak mudah itulah ternyata menjadikan sesuatu yang menakjubkan. Dan orang-orang sukses yang kamu lihat pun memiliki cerita dukanya sendiri. Bahkan mungkin lebih duka dari hal hal yang paling duka dalam hidup kita. Lebih menderita dari kita yang seringkali merasa menjadi orang paling menderita sedunia. Mungkin kita hanya direndahkan, tapi mereka dicaci, diludahi, bahkan harga dirinya diinjak-injak. Mungkin kita hanya makan tempe atau mie seadanya, tapi mereka pernah hanya makan dengan garam dan singkong bahkan merasakan tidak makan berhari-hari. Mungkin kita hanya mempunyai orang tua sederhana, namun mereka bahkan kehilangan orang tua mereka dan hidup sebatang kara. Bedanya, mereka menjadikan itu semua sebagai pelecut untuk bisa sukses. Merubah nasib mereka dan mengangkat derajat keluarga mereka. Bukan dengan mengutuki diri, hanya mengeluh tanpa berbuat apa apa. Lalu dikalahkan oleh keadaan.
Maka Kawan Muda .. Segeralah bertindak, karena waktu akan terus bergerak tanpa pernah menunggu kita. Tanpa pernah menunggu kesiapan kita.

#3 Gapailah kesuksesanmu bukan untuk dirimu sendiri!

Foto : andriewongso.com
Foto : andriewongso.com
Semua kesuksesan yang dicapai, bukan semata mata karena kerja keras kita sendiri. Melainkan ada peran kuat dari orang-orang terdekat kita, ada do’a orang tua yang tidak pernah lelah meminta pada Tuhan, ada ribuan liter keringat yang sudah dikorbankan orang tua, hanya agar kehidupan kita lebih baik dari mereka. hal itu tidak mereka lakukan dengan mudah.
Karena mereka bekerja bukan duduk diatas kursi empuk, namun diatas tanah kotor nan lembap, bukan didalam ruangan sejuk ber-AC melainkan dibawah terik matahari. Yang semua itu hanya agar kita bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari mereka, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dari mereka, agar kita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik dari mereka. Walaupun dibelakang mereka tidak berjejer gelar sarjana, walaupun pekerjaan mereka dipandang rendah oleh orang, dan segala perjuangan yang tidak pernah melihat apakah panas atau hujan, sehat atau sakit, mudah atau sulit hingga tak peduli siang atau malam. Mereka akan melakukan yang terbaik untukmu. Dan untuk semua pengorbanan itu, masihkah kau tidak merasa bangga? Masihkah kau sekolah atau kuliah dengan malas malasan? Masihkah kau bekerja dengan main-main? Tidak adakah keinginan menjadi orang yang berprestasi, berkepribadian baik dan sukses, agar mereka merasa bahagia karena perjuangan mereka untukmu ternyata tidak sia – sia. Melainkan dengan tepat dan berbuah manis.
Niatkan semua kesuksesanmu untuk mereka, simpanlah foto keluargamu dimeja belajar atau meja kerja. Sehingga ketika kamu ingin menyerah dan kamu jenuh dengan semua yang kamu alami, kamu selalu menemukan alasan mengapa kamu harus bangkit berkali-kali.
“Ucapkan terimakasih untuk mereka yang mendukungmu dan yang pernah merendahkanmu. Tanpa mereka kamu tidak akan berjuang sampai disini!”


03 Juni 2019

5 Kewajiban Wanita Setelah Menikah Menurut Al-Quran dan Hadist

Pernikahan adalah satu hal yang terhitung ibadah bagi setiap muslim. Pernikahan dapat menjaga diri manusia dari segala kemaksiatan dan perbuatan yang haram, seperti berzina. Pernikahan yang berkah tentunya adalah pernikahan yang diorientasikan kepada Allah dan dilakukan dengan niat unutk beribadah. Ada banyak sekali hikmah dan manfaat dari pernikahan. Pernikahan yang berkah tentu saja pernikahan yang sesuai dengan spirit dari rukun islam, rukun iman, fungsi agama islam, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

Untuk dapat melaksanakanannya salah satu yang mendasari keberkahan pernikahan adalah dilaksanakannya kewajiban-kewajiban dari masing-masing pasangan. Tentu untuk hal ini, wanita juga memiliki peranan dan kewajiban yang harus dilakukan setelah menikah. Berikut adalah kewajiban-kewajiban wanita yang harus dipenuhi setelah menikah.



Kewajiban Wanita dalam Pernikahan Menurut Al-Quran

Untuk dapat melaksanakanannya salah satu yang mendasari keberkahan pernikahan adalah dilaksanakannya kewajiban-kewajiban dari masing-masing pasangan. Tentu untuk hal ini, wanita juga memiliki peranan dan kewajiban yang harus dilakukan setelah menikah. Berikut adalah kewajiban-kewajiban wanita yang harus dipenuhi setelah menikah.
Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa wanita muslimah memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya sebagai bentuuk ibadah dalam hal rumah tangga. Berikut adalah ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan kewajiban wanita setelah menikah.
  1. Mengikuti Imam Keluarga
“Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. ”
Di dalam islam, suami adalah pemimpin atau imam bagi wanita. Hal ini bukan berarti segala apa yang dilakukan dan diperintahkan oleh suami harus seluruhnya ditaati. Tentu saja aturan-aturan suami atau perintah dan nasehat suami yang berhubungan dan tidak kontradiksi dengan apa yang Allah perintahkan. Mengikuti dan ikut apa yang suami sampaikan bukan karena kita ingin mengikuti suami, melainkan  karena memang Allah yang menentukan.
  1. Bersikap Taat Pada Suami
“Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An Nisa : 34)
Istri diperintahkan untuk mengikuti suami dan mentaatinya atas dasar karena Allah SWT. Untuk itu, suami juga bisa melakukan seperti tidak mesetebuhi istrinya ketika istrinya tidak taat atau berbuat yang melanggar batasnya. Hal ini tentu akan berdampak kepada keharmonisan. Untuk itu, agar keluarga bisa terjalin dengan baik maka seorang istri bisa melakukan hal ini, sebagai bagian dari kewajibannya.
  1. Berbuat Kebaikan dalam Keluarga
”Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi mereka wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan. “ (QS An-Nisa’ ayat ke 32)
Apa yang dilakukan wanita dalam keluarga hakikatnya adalah melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri. kebaikan seseorang adalah bagian dari usaha orang itu sendiri. Untuk itu, tidak menjadi kerugian jika wanita melakukan hal-hal kebaikan untuk keluarganya apalagi jika memang ditujukan untuk keluarga.
  1. Menjaga Aurat
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “ (QS An-Nuur : 31)
Wanita berkewajiban untuk menjaga auratnya, tidak boleh memperlihatkannya apalagi jika mengundang atau memancing pada laki-laki yang bukan suaminya. Untuk itu, wanita harus bersikap hormat terhadap dirinya sendiri.
  1. Tidak Bersikap Jahiliah
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).
Wanita muslimah sebagai istri juga berkewajiban untuk menjaga dirinya dan rumahnya. Orang-orang jahiliah memiliki kebiasaan untuk bersikap berlebihan dalam berdandan. Apalagi mereka tidak dapat menjaga kehormatan diri nya sebagai wanita di luar rumah. Untuk itu wanita muslimah berkewajiban untuk menjaga dirinya salah satunya tidak bersikap sebagaimana orang-orang jahiliah.

Kewajiban Wanita Muslimah Menurut Hadist

Di dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa wanita tidak boleh menganiaya suaminya dengan pekerjaan yang membenaninya dan membuatnya sakit hati. Selain dari seorang suami juga memiliki beban menafkahi keluarga, tentu seorang istri harus dapat memahaminya agar kelancaran juga meyertai keluarganya.
“Barang siapa (isteri)menganiaya suaminya dan memberi beban pekerjaan yang tidak pantas menjadi bebannya (yakni suami) dan menyakitkan hatinya, maka para Malaikat juru pemberi Rahmat (Malaikat Rahmat) dan Malaikat juru siksa (malaikat azab) melaknatinya (yakni isteri). Barang siapa (isteri) yang bersabar terhadap perbuatan suaminya yang menyakitkan, maka Allah akan memberinya seperti pahala yang diberikan Allah pada Asiyah dan Maryam Binti Imran.” (Al Hadist)
Dapat diketahui bahwa ekonomi adalah salah satu dasar dari membangun keluarga. Jika suami tidak bisa memenuhinya tentu bisa membuat keluarga juga tidak menjadi produktif dan mandiri. Tentu saja hal ini akan berdampak pada rumah tangga, akan sulit dalam mencapai visi yang sesuai Tujuan Penciptaan Manusia,Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.
Itulah kewajiban wanita setelah menikah menurut Al-Quran dan Hadist. Hal-hal tersebut jika dilakukan tentu saja akan berdampak kepada keharmonisan keluarga, terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rohmah. Untuk itulah, segala macam bentuk kesuksesan keluarga sejatinya sangat dipengaruhi oleh seorang wanita dalam rumah tangga dan keluarganya serta peran dalam mendorong suaminya.
Hal ini seperti sebuah hadist, “Sebaik-baik perhiasan, adalah wanita yang shalihah”. Wanita yang shalihah tentunya dapat mengalahkan para bidadari-bidari surga.
Wassalam


Hukum Suami Menghina Istri Dalam Islam

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, termasuk istri Anda. Untuk menghadapinya tentunya Anda harus mempraktekan cara mengatasi masalah rumah tangga secara islami. Yakni dengan menasehatinya secara baik-baik dan bertutur kata lembut. Sebab pada dasarnya wanita itu lemah. Ia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok maka seorang suami harus bisa melindunginya. Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

"Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari)
Meskipun islam telah menjelaskan secara lengkap tata cara berperilaku terhadap istri yang baik, namun tetap saja sebagian orang mengabaikannya. Seorang pria yang terbawa emosi terkadang khilaf lalu menghina istrinya bahkan bermain tangan. Nah, kira-kira bagaimana sih hukum suami menghina istri dalam islam? Berikut ulasan lengkapnya!
Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk berkisap saling menghina. Sebaliknya, manusia dianjurkan untuk bisa bertutur kata yang baik. Apabila tidak sanggup maka harusnya diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Begitupun dengan sikap suami terhadap istrinya. Tidak boleh suami mengina atau berkata keji kepada istri-istri mereka. Terlebih lagi memukul maka hukumnya haram. Rasulullah mencontohkan untuk berbuat baik terhadap istri. Sebab istri adalah pententram hati. Dialah  ibu rumah tangga dalam Islam yang bekerja membersihkan rumah, memasak, mengurusi anak, dan menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga. Kalaupun istri punya sedikit kekurangan maka kewajiban suami terhadap istri dalam Islam harus menerimanya. Atau paling tidak menasehatinya dengan cara lembut. Ingatlah perjuangan istri saat mengandung dan melahirkan bayi. Dia bertaruh antara hidup dan mati. Maka sudah tentu suami menghargai semua itu.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwasahnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.” (HR. Muslim)

Dalil-Dalil yang Memerintahkan Suami Berbuat Baik Kepada Istri

Terdapat banyak dalil yang memaparkan tentang perintah agar suami berbuat baik kepada istri. Diantaranya yakni:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi)
“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.” (Diriwayatkan dari Maisarah bin Ali)
“Dan pergaulilah istrimu-istrimu dengan baik. Lalu, jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. An-Nisaa’ : 34)
“Orang-orang yang menyakiti mu’min laki-laki dan mu’min perempuan tanpa perbuatan yang mereka lakukan, Maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 84)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)

Cara Suami Memperlakukan Istri yang Bersalah

Ketika seorang pria menikahi wanita, maka sejak saat itu dia bertanggung jawab penuh terhadap wanita tersebut. Segala kebaikan dan keburukan wanita itu harus bisa diterima. Suami berkewajiban untuk meluruskan agama sang istri. kewajiban wanita setelah menikah juga harus mematuhi suaminya.
Apabila istri berbuat salah, maka islam mengajarkan terdapat 3 hal yang harus dilakukan. Yakni pertama dinasehati, pisah ranjang dan dipukul dengan pukulan yang lembut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran:
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di termpat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.An Nisa’: 34-35).
  1. Didoakan
Saat istri marah maka sebaiknya jangan dibalas dengan amarah. Sebaliknya, cobalah berlaku lemah lembut. Peluklah dia. Lalu pegang ubun-ubunnya dan berdoalah:
Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
  1. Menasehati
Tindakan berikutnya yang harus dilakukan saat istri berbuat salah maka suami wajib menasehatinya. Menasehati bukan berarti menggurui. Namun berbagi ilmu tentang agama dengan cara yang baik. Anda bisa mengajak istri duduk berdua. Lalu ceritakan tentang hadist atau ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan akhlak atau lainnya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR.Ahmad, Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah)
Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR. At-Thabrani)
  1. Memboikot (Hajr) dengan Cara Pisah Ranjang
Apabila nasehat masih tidak membuahkan hasil, maka suami bisa melakukan pisah ranjang selama beberapa hari. Misalnya saja Anda tidur di ruangan lain. Namun jangan perlakukan istri Anda dengan buruk. Menurut ulama, untuk perbuatan hajr tidak boleh dari 3 hari. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak halal bagi seorang muslim melakukan hajr (boikot dengan tidak mengajak bicara) lebih dari tiga hari” (HR. Bukhari).
  1. Memukul Tanpa Melukai
Apabila cara-cara diatas tidak bisa mengubah sikap istri, maka suami diperbolehkan memukul istri. Dengan syarat pukulan tersebut tidak boleh meninggalkan bekas luka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas”(HR. Muslim).
Para fuqaha berpendapat bahwa dalam memukul istri tentunya ada batasan-batasan yang wajib diikuti.  Diantaranya:
  • Tidak boleh memukul dengan tongkat, tapi cukup dengan tangan, kayu siwak atau sapu tangan yang digulung
  • Pukulan tidak boleh mengakibatkan luka atau cedera
  • Pukulan tidak boleh dilakukan secara membabi buta ataupun menyiksa
  • Pukulan hanya dimaksudkan untuk sekedar memberi pelajaran, bukan menuruti hawa nafsu dan amarah
  • Pukulan tidak boleh membekas : “Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas” (HR. Muslim).
  • Tidak boleh lebih dari 10 kali pukulan: “Janganlah mencabuk lebih dari sepuluh cambukan kecuali dalam had dari aturan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Tidak boleh memukul di wajah: “Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya” (HR. Abu Daud)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Allah”. (HR. Ahmad)
  1. Sebaiknya Hindari Memukul
Meskipun perbuatan memukul istri diperbolehkan, namun tetap saja sebaiknya dihindari.Terlebih lagi jika istri telah bertaubat maka hendaknya suami memaafkannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
Dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. An Nisa’: 34).
Dari Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?” (HR. Muslim, Bukhari dan Tirmidzi)
Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” (HR.Abu Dawud)
Dari penjelasan diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa hukum suami menghina istri dalam islam adalah tidak diperbolehkan. Seseorang yang baik adalah mereka yang mampu memaafkan dan menjaga ucapannya. Dengan demikian rumah tangga bisa menjadi keluarga sakinah dalam Islam, keluarga harmonis menurut Islam, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Demikian info mengenai hukum suami menghina istri dalam islam. Semoga bermanfaat.