Translate

21 Februari 2020

JAGA LISANMU DEMI KESELAMATANMU


Hendaknya muslim memperhatikan lisannya dengan sebaik-baik perhatian,  menghindari perkataan batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba dan perkataan keji. Ringkasnya, hendaklah ia menjaga lisannya dari segala hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan hidupnya di dunia dan juga akhirat. Dan juga Mungkin juga ia mengucapkan suatu kalimat di mana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajat. Dalil yang menunjukkannya adalah sabda beliau “sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan kalimat yang dia memperoleh kejelesan di dalamnya, maka dia pun dijerumuskan dalam api nerska lebih baik jauh dari arah timur.”( HR. Al-Bukhari (no. 6477), dan lafazh di atas adalah riwayat beliau, Muslim (no. 2988) dan Ahmad (No. 870).

Sebagaimana suatu kalimat bisa menjadi penyebab kemungkaran Allah, maka demikian pula suatu kalimat bisa menjadi sabab pengangkatan derajat dan kebahagiaan.

Beliau Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah di mana ia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena kalimat tersebut . Dan,   sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya hingga dia dicampakkan kedalam neraka jahannam”.

Jadi, diwajibkan bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan dalam rangka mencari Keridhaan-Nya, dan berharap merai pahala dari-Nya. Dan, hal itu mudah bagi siapa yang Allah Mudahkan.

Faidah:

Ath-Thaibi mengakatan  (Tuhfatu; Ahwadzi (VII/75) dengan sedikit perubahan.)  “LisanAdalah penerjamah hati penggantinya di bagian tubuh yang Nampak. Jika suatu perkara disandarkan kepadanya maka ia menjadi majaz dalam hokum. Seperti perkataan, ‘Dokter menyembuhkan seorang yang sakit.’ Al-Maidani berkata tentang sabda beliau, ‘Seseorang tergangtung kepada dua hal kecil yang ada pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan’. Maknanya, kepribadian seseorang akan menjadi sempurna dengan dua hal- tersebut.

Bahan Bacaan: kitb Al-adab , Fuad bin Abdil Aziz Asy- Syalhub, penerjemah: Abu zakaria al-atsary “Kumpulan AdabIslami”.


MEMIMPIN : Seni Mengelola Derita Menjadi Bahagia

Di zaman milenial ini, wacana kepemimpinan terus  menjadi issue yang ramai dibicarakan, bukan hanya ditingkat elite pemerintahan tapi juga dikalangan warga masyarakat dilapis akar rumput.

Membincang kepemimpinan sama artinya menyoal pemimpin sebagai pihak yang mengelola dan menggerakkan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki, baik yang ada pada dirinya sebagai pemimpin maupun sumber daya yang dipimpinnya.


Konsep dan praktek kepemimpinan yang terang benderang telah berhasil dikonseptualisasi dan digelorakan Rasulullah pada masanya. Kepemimpinan  yang dikenal dengan istilah imamah, sedangkan pemimpin disebut imam. Kedudukan seorang pemimpin dalam Islam sangatlah penting. Bahkan keberadaannya fardhu kifayah, di mana setiap manusia akan berdosa apabila tidak adanya seorang pemimpin pun dan pembebanan hukum tersebut terbebas manakala salah seorang dari umat telah terpilih menjadi pemimpin.

Dengan demikian pemimpin harus dimaknai secara mendalam. Mengingat untuk menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah, mengutip pepatah Belanda yang dipopulerkan oleh KH. Agus Salim “Leiden ia Lijden” yang berarti “Memimpin adalah Menderita”.

Pepatah tersebut menggambarkan sebuah kerelaan untuk menderita dengan apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang rela mengorbankan waktu, pikiran, serta tenaganya untuk mencapai tujuan bersama.

Tugas seorang pemimpin dikatakan berhasil apabila pemimpin tersebut memahami tugas pokok dan kewajibannya. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama dengan para anggotanya, sehingga tercipta rasa harmonis dalam melaksanakan tanggung jawab yang di amanahkannya. Sejatinya pencapaian harmoni itu merupakan wujud nyata penikmatan atas kebahagiaan secara bersama, baik yang dirasakan oleh sang pemimpin maupun yang dinikmati pihak yang dipimpin.


05 Februari 2020

POLIGAMI Vs SELINGKUH


Saya kemarin nemu diberanda,komentar yg mengatakan "Sebelum itu suami poligami coba istri selingkuhi dulu,bagaimana perasaannya,pasti sakit"
Kemudian ada komentar "Hanya wanita yg tdk sehat yg mau dipoligami" Eeehhh👋 Para shahabiyah dipoligami,para istri² Rasulullah dipoligami yg kamu tak bisa pungkiri bahwa mereka adalah ummul mukminin di syurga dan kamu mengatakan mereka tdk sehat?
Mungkin kadar kesottaan dlm dirimu yg terlalu tinggi sayang..

MaasyaAllah😅
Bagaimana mungkin kemaksiatan kamu bungkus kedalam syari'at sunnah itu?
Andai Amirul mukminin Umar bin KHattab Rhadiyallahu Anhu hidup,mungkin acungan pedangnya sdh menggolok ke lehermu..😖

Poligami itu terhormat,menyelamatkan dan membantu sedangkan selingkuh adalah perbuatan yg dipenuhi syahwat yg dilaknat oleh ALLAH Azza wa jalla..tetapi..ada banyak ikhwah yg merusak citra poligami itu sendiri,meneriakkan Sunnahh..sunnah tetapi mencari yg cantik,putih,mulus,dan lebih muda😅 beda yaa..jika karena nafsu

Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam punya banyak istri tapi tak satupun istri yg menyatakan penyesalannya diperistri Rasulullah,mengapa? Karena beliau Adil mmperlakukan istri²nya,kemudian niat beliau bukan karena syahwat..

Jadi..jika menemukan seseorang yg berpoligami namun tdk bsa adil dan tujuannya berbeda maka benci perilakuuunya ! Bukan benci orangnya ataupun syariat poligaminya..fahimtunna?

Saya tidak mampu seperti para mereka yg IkhlasAlallah dipoligami,saya tidak mampu seperti para Ummul mukminin dan para shahabiyah Rhadiyallahu Anha,tetapi saya mengapresiasi dan iri kepada mereka yg begitu mampu melakukan itu dengan Thashihunniyah semata mata mengharap ridho ALLAH Robbul izzati..MaasyaAllah Tabaraqallah

#dakwahtabligh
#dakwahmasturoh


Siapa sangka, dibalik pro dan kontra, ternyata poligami banyak peminatnya. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan di gurusiana. Belakangan ini, tulisan masalah poligami semakin “ramai” saja.

Yang paling up date adalah tulisan pak Mulya sang guru geografi di MAN 2 Tangerang. Kajian poligami berdasarkan data demografi. Data ini, fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Setelah itu, bunda Rini Yuliati langsung meramunya menjadi satu tulisan bertajuk “Sejujurnya Aku Tidak Rela untuk Berbagi Suami Dengannya”. Komentar pun beraneka ragam. Itu menandakan poligami banyak peminatnya. Paling tidak minat baca…hehehe.

Dengan data “demografi” yang ditampilkan guru geografi di Manduta tersebut, alasan poligami sangat masuk akal dan diterima logika. Tetapi karena poligami juga menyangkut masalah “rasa”, maka berbagai “rasa” bercampur di situ. Manis, asam asin, juga pahit atau bahkan hambar. Nano nano lah jadinya.

Poligami pastinya terasa akan berbeda jika dipandang dari sudut pandang dan cara pandang yang berbeda pula. Namun yang jelas, dari mana atau bagaimanapun kita memandang, kita tidak boleh gegabah mengemukakan “rasa” yang ada.
Biarkan apa yang kita rasakan tetap dalam bimbingan dan ridho-Nya semata. Karena Dia sang Alimul Hakiim, yang maha mengetahui lagi maha bijaksana atas semua yang diciptakan-Nya. Termasuk apa yang difirmankan-Nya didalam surat An Nisa ayat 3.

Wallahu a’lam bishowab