Translate

13 November 2019

Rumah Tangga Tidak Akan Bahagia Jika Orang Tua Terlalu Ikut Campur



Setiap pernikahan pasti memiliki cerita tersendiri dan selalu memiliki hal yang berbeda-beda setiap orangnya.

Ada yang memiliki suami kasar, ada pula yang memiliki mertua yang jahat bahkan ada juga yang memiliki mertua suka ikut campur tentang urusan rumah tangganya, sebagaimana kisah perempuan ini yang memiliki orang tua suka ikut campur masalah rumah tangganya.

Perempuan ini bernama suci yang mana ia sudah menikah selama 1 tahun 10 bulan namun belum dikarunia anak.

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua orang saja melainkan menyatukan dua keluarga, tentu bukan hal yang mudah.

Terutama jika dia anak satu-satunya sehingga orang tuanya selalu ikut andil dalam banyak hal termasuk dalam rumah tangganya, padahal dia sudah menikah.

Padahal jika seorang perempuan sudah menikah maka pengambil keputusan adalah suaminya, sedangkan dia justru ayahnya.

Ketika anaknya memberi saran kepada orang tuanya agar tidak mengatur kehidupan anaknya karena dia sudah menikah justru orang tuanya marah dan mengatakan bahwa ia anak durhaka.

Merasa Bingung
Tentu sebagai anak juga sebagai istri merasa kebingungan, usia kehamilan sudah menginjak 1 tahun sepuluh bulan namun orang tuanya yang mengambil peran.

Tentu suaminya terlihat sedih, pernah sang anak mengabaikan keputusan orang tuanya justru malah sedih dan sakit. Maka dari itu sebagai anak dan juga istri merasa kebingungan untuk mencari solusinya.

Padahal sebagai isrti harus patuh kepada suaminya, karena setelah menikah kewajiban istri yang awalnya patuh kepada orang tua berpindah kepada sang suami, namun bukan berarti sebagai anak akan berhenti berbakti kepada orang tuanya.

Singkat cerita pada jaman Nabi Muhammad diceritakan, bahwa ada seorang istri yang dilarang oleh sang suaminya untuk keluar rumah sampai suaminya pulang.

Lalu tiba-tiba sang kakak datang menemuinya dan mengatakan bahwa orang tuanya meninggal dunia.

Sang kakak mengajak adeknya tersebut namun ia berkata bahwa ia dilarang keluar rumah oleh suaminya hingga sang suami pulang kerumah.

Sang kakak marah lalu meninggalakn sang adek tersebut. Akan tetapi karena sang anak patuh kepada suaminya, maka orang tua dari sang anak tersebut masuk surga karena telah mematuhi suaminya. Ia pun berkata bahwa ia ingin menjadi istri yang patuh kepada suaminya.

Namun ia tidak tahu harus bagaimana dengan sikap orang tua yang selalu ikut campur dalam keluarganya.

Ia hanya bisa berdoa kepada Allah semoga Allah memberi hidayah dan orang tuanya terbuka hatinya sehingga tidak ikut campur dalam rumah tangga anaknya lagi.
_____________________________________________






Suami yang di Terlantarkan

Ada pula kejadian yang berbeda diawal sebelum pernikahan dilangsungkan suami istri sudah sepakat bahwa "selama belum memiliki tempat tinggal maka mereka mengatur secara bergiliran atau bergantian tinggal dirumah org tua istri beberapa waktu dan juga tinggal di rumah orang tua suami selama beberapa waktu, semua dapat dikondisikan dengan keadaan"

Namun pernikahan pun berlangsung, selama beberapa bulan setelah menikah, sang suami adem tinggal di rumah mertuanya. Sang mertua pun terkadang memuji menantunya, selalu menganggap sang menantu sebagai orang yg rajin dan energik, beberapa pujian itu selalu terlantar dari mertua, sehingga tak jarang sang suami merasa sungkang, karena selalu khawatir, kalau mertua nya akan kecewa jika melakukan kesalahan,


Waktu berjalan begitu singkat, kemudian sang suami tak pernah meminta untuk tinggal dengan orang tuanya, dan juga merasa berat untuk meminta, namun besar keinginannya akan hal itu, sesekali ia menyempatkan diri meminta jika ada keluarga dekat yang membuat pesta, maka sang suami memberanikan diri untuk meminta untuk balik kerumah orang tuanya, dan meminta untuk tinggal dirumah orang tuanya, namun sang istri hanya mau kerumah orang tua sang suami jika acara pestanya dilangsungkan keesokan harinya, sehingga sang istri hanya bermalam semalam saja di rumah mertuanya, istri bahkan terkadang menyebut nyebut bahwa orang tuanyalah yang telah memberikan makan selama sang suami tinggal di rumah istrinya.

Perbedaan strata sosial dengan ipar 
Dua tahun setelah itu saudara perempuan istrinya menikah dengan seorang pelaut yang konon gajinya puluhan juta perbulan.

Beberapa bulan kemudian mulailah perbandingan penghasilan dari kedua menantu dalam rumah itu. Tak disangka menantu yang pertama yang tadinya selalu dibanggakan oleh mertuanya, kini berubah drastis karena penghasilan menantu yang kedua jauh melebihi menantu yang pertama.

Bulan berganti, tahun berganti, dua tahun setelah pernikahan itu, mulailah terjadi sebuah gejolak dalam rumah tangga, karena sang suami merasa tak pernah mendapat hak nya sebagai suami, suami mulai merasa minder, merasa tak punya harga diri, maka sang suami meminta istrinya untuk tinggal sendiri terpisah dari orang tua, agar dapat mengatur rumah tangganya sendiri,

Namun apa yang terjadi sang istri yang lebih dominan dan meremehkan penghasilan suaminya yang tak seberapa, hampir setiap permasalahan mereka di campuri oleh mertua,  ketika sang suami menasihati istrinya, untuk taat pada suami, maka mertuanya turut campur dan merasa dirinya lah yang telah membesarkan nya, sehingga seolah tak ada hak suami terhadap istri, demi mempertahankan rumah tangganya, sang suami hanya terdiam dan menurut apa kata mertuanya.

Namun dalam benaknya selalu bergejolak perasaan yang tak menentu, terkadang timbul rasa tidak betah di rumah, sehingga lama kelamaan ia lebih senang menghabiskan waktunya di tempat kerjanya menyelesaikan pekerjaan kantor, daripada kembali kerumah yang membuat hatinya sesak, karena tak pernah dihargai. Bahkan urusan ranjang pun kadang menjadi persoalan karena sang istri sering menolak ajakan sang suami.

Terkadang sang suami memberikan bahasa kiyasan, dengan kalimat pendek namun penuh makna bagi sang suami,
Ini bahasa yang kadang diucapkan sang suami "jika seorang suami sudah kenyang dirumah, buat apa ia makan diluar". Namun seolah sang Istri tidak memahami maknanya. 

Istrinya bahkan terkadang ngomel kalau suaminya tak pulang kerumah untuk makana pada saat jam istirahat. Awalnya sang suami kadang pulang, namun lama kelamaan ia tak lagi sering pulang makan.
Sehingga membuat istrinya semakin jengkel.

Beberapa tahun kejadian ini berlangsung, mulailah kurangnya perhatian satu sama lain.


Suami mulai selingkuh
Karena ditempat kerjanya ada yang begitu peduli dengannya, dan selalu memberikan perhatian yang baik, terkadang menjadi tempat curhatnya, inilah yang membuat hatinya tenang, meski sedang gelisah ada yang selalu memberikan support.

Pada awalnya perempuan itu selalu memberikan motivasi untuk selalu mempertahankan rumah tangganya, karena itu adalah amanah Allah, selalu memberikan dorongan positif untuk tetap tegar, perempuan ini kadang memberikan makanan ketika sedang kerja sampai sore.

Sehingga mulailah ia merasa tertarik pada teman perempuannya itu, begitulah awal mulanya ia memiliki wanita simpanan, kini ia tak mampu lagi mempertahankan kesetiannya pada istrinya, yang selama delapan tahun ia telah mampu menjaga dan berusaha untuk mempertahankan nya,...

Namun tak lama setelah itu ia ketahuan selingkuh dari SMS yang ia baca di HP suaminya.

Maka kemarahan sang istri pun semakin melonjak, sehingga sang suami yang merasa telah melakukan kesalahan meminta maaf, namun tak diperdulikan oleh sang istri, ia pun kemudian mengadukan itu kepada orang tuanya, dan dengan serta merta ia mengusir menantu nya itu.

Waktu semakin berjalan, ia tak pernah memberi kabar,  setelah kurang lebih 8 bulan kemudian sang suami pun datang dan minta maaf kembali,
Saat itu ia diberi maaf dengan beberapa persyaratan, ia harus mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor, ia harus kembali kerumah setelah jam kantor dan membantu pekerjaan mertuanya atau beres beres dirumah, ia tak boleh tidur diatas kasur bersama istrinya, dan ia harus bersedia membantu pekerjaan mertuanya kapan pun itu dibutuhkan.

Ia bersedia menerima persyaratan itu karena ia tak ingin jauh dari anaknya semata wayang,

Setelah waktu berlalu beberapa kali ia selalu mengajak istrinya untuk hidup mandiri, tidak lagi tinggal sama orang tua, namun lagi-lagi keinginannya itu ditolak dengan alasan bahwa suaminya tak akan mampu menghidupi rumah tangganya, dan juga istrinya tidak ingin durhaka pada orang tuanya jika ia harus tinggalkan, maka untuk kesekian kalinya ia kembali harus pasrahkan diri. Meski dalam benaknya rasa ingin memiliki tempat tinggal sendiri itu sangat tinggi namun ia tak mampu untuk memaksakan kehendaknya pada istrinya, disisi lain ia tak sanggup selalu dibanding-bandingkan dengan penghasilan dari menantu kedua dalam rumah tersebut bahkan terkadang diremehkan.

Beberapa tahun kemudian ia mencoba untuk tinggal dua minggu di rumah orang tuanya, dengan alasan bahwa tempat kerjanya berada dekat dengan rumah orang tuanya. Namun lantaran itu, istrinya mengirim pesan tak usah lagi datang ke rumahnya, lalu sang suami yang sudah lama merasa diremehkan dan dipermalukan, betul-betul tidak datang ke rumah istrinya lagi, dan istrinya pun menggugat perceraian.... Sang suami hanya pasrah dan diam saja.... Namun satu permintaan nya, agar jangan melarang jika ia ingin bertemu dengan anaknya,....

Demikian ringkasan kisah nyata ini...
Semoga dapat menjadi pelajaran buat semuanya....

____________-______

 Pesan dalam kisah ini,
1. Peliharalah rumah tangga dengan saling memberikan hak pada masing-masing suami istri,
2. Setelah menikah, segeralah untuk memiliki tempat tinggal sendiri, meski pun itu sangat sederhana,
3. Jangan libatkan orang tua dalam masalah rumah tangga.
4. Jangan pernah meremehkan penghasilan suami jika suami sudah sungguh-sungguh telah berusaha mencari nafkah, dan yg terpenting jangan membandingkan penghasilan suami dengan penghasilan orang lain apalagi jika orang yang kau bandingkan itu adalah keluarga mu sendiri
5. Sangat tidak dimungkinkan jika istri yang menjadi penentu utama dalam keluarga
6. Tepatilah perjanjian suami istri ketika sebelum menikah....


Catatan.: setelah membaca dari awal sampai akhir, diharapkan para pembaca agar juga tetap membaca literatur yang lain terkait dengan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anak nya...