Di zaman milenial ini, wacana kepemimpinan terus menjadi issue yang ramai dibicarakan, bukan hanya ditingkat elite pemerintahan tapi juga dikalangan warga masyarakat dilapis akar rumput.
Membincang kepemimpinan sama artinya menyoal pemimpin sebagai pihak yang mengelola dan menggerakkan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki, baik yang ada pada dirinya sebagai pemimpin maupun sumber daya yang dipimpinnya.
Konsep dan praktek kepemimpinan yang terang benderang telah berhasil dikonseptualisasi dan digelorakan Rasulullah pada masanya. Kepemimpinan yang dikenal dengan istilah imamah, sedangkan pemimpin disebut imam. Kedudukan seorang pemimpin dalam Islam sangatlah penting. Bahkan keberadaannya fardhu kifayah, di mana setiap manusia akan berdosa apabila tidak adanya seorang pemimpin pun dan pembebanan hukum tersebut terbebas manakala salah seorang dari umat telah terpilih menjadi pemimpin.
Dengan demikian pemimpin harus dimaknai secara mendalam. Mengingat untuk menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah, mengutip pepatah Belanda yang dipopulerkan oleh KH. Agus Salim “Leiden ia Lijden” yang berarti “Memimpin adalah Menderita”.
Pepatah tersebut menggambarkan sebuah kerelaan untuk menderita dengan apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang rela mengorbankan waktu, pikiran, serta tenaganya untuk mencapai tujuan bersama.
Tugas seorang pemimpin dikatakan berhasil apabila pemimpin tersebut memahami tugas pokok dan kewajibannya. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama dengan para anggotanya, sehingga tercipta rasa harmonis dalam melaksanakan tanggung jawab yang di amanahkannya. Sejatinya pencapaian harmoni itu merupakan wujud nyata penikmatan atas kebahagiaan secara bersama, baik yang dirasakan oleh sang pemimpin maupun yang dinikmati pihak yang dipimpin.
