Translate

30 April 2015

AKU LEBIH BAIK DIAM

Ketika mengalun sebuah nasehat dari seorang wanita setengah baya,“Hati – hati nak, lidah manusia itu tajam. Bisa menyakitkan hati orang lain. Dijaga ya, jangan sampai keluar perkataan yang menyakitkan orang.”, aku tediam…!

Ya, aku terdiam tidak percaya. Apa benar perkataanku sering menyakitkan manusia…? Aku coba tanyakan kembali kepada wanita tersebut,” apa perkataan saya sering menyakitkan orang bu?”

Tenyata kemudian ibu itu tersenyum sambil berucap,“Wallahua’lam, ibu tidak tau. Diraba saja tengkuknya. Yang penting hati – hati. Kebaikan itu bisa kelihatan & kejelekanpun akan tampak.”

Kemudian dari perkataan wanita yang telah melahirkan, merawat dan mendidikku itu, aku hanya bisa terdiam. Meratapi dan merenungi sebuah kejadian yang di sana, meluncur sebuah kata dari lidah seorang manusia.

Tiba – tiba saja memori ini membawa pikiranku pada suatu saat & tempat. Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang mengantar salah seorang saudara menuju sebuah percetakan. Menuju percetakan itu berhajat untuk merampungkan TA = Tugas Aneh, dalam hal menjilid & mencetak sebuah poster.

Ribet…, cukup ribet proses di dalamnya, sehingga membuat hati ini sedikit jengah untuk memandang suasana sekitar. Kesal dengan keadaan, tiba – tiba tanpa diberikan aba – aba & komando, sebuah kata ringan, namun tak akan pernah bisa terlupakan untuk diambil pelajaran. “Kelamaan…!” meluncur begitu saja dari lidah yang tak terkunci ini…kontan saja, penerima kata – kata itu menjadi tercengang. Betapa tidak…! Ruwetnya proses mencetak tugas akhir itu, tidak dihargai dengan sebuah senyum yang menyejukkan & kata – kata yang menentramkan, eh malah “dingambek’in” dengan satu kata tersebut.

Masya Allah, sontak saudara itu terdiam…!

Betapa kejam kata yang keluar dari mulut itu menghunus kalbu…! Menyayat hati…!
 
————-+++——————

Astaghfirullah, astaghfirullah…

Seketika itu aku belajar. Belajar suatu hal, yang insya Allah bisa kita masukkan ke dalam saku sebagai bekal mengarungi hidup yang tak lama, tak sederhana & tak terlalu istimewa ini…

Yang pertama aku belajar untuk BERKATA YANG BAIK… atau… jika aku tak mampu, maka AKU DIAM.

Ya…

Aku belajar tentang sebuah hal, yang ternyata Nabi ‘alaihi ash shalatu wa sallam telah mengajarkannya kepadaku, kepada kaum muslimin semenjak 1400 tahun yang lalu.

Beliau bertutur…

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”

Aku belajar bagaimana seharusnya bertutur kata dan bertegur sapa. Betapa kalimat yang baik & santun itu amat diperlukan dalam setiap suasana, kepada setiap manusia. Kepada semua manusia baik tua maupun muda, baik lelaki atau wanita baik orang kaya atau orang miskin, dan lainnya…

Aku belajar untuk menjaga lidah kepada manusia. Bertutur dengan perkataan yang lembut, kepada manusia – manusia, entah itu manusia yang baik maupun manusia yang jahat. Bagaimana tidak demikian, jika orang terjahat di muka bumi ini saja yaitu Fir’aun, Allah perintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk berkata dengan “qoulan” layyinah” atau perkataan yang lembut.[]

Aku belajar dan aku mengerti, bahwa perkataan baik itu menentramkan hati dan menyejukkan jiwa.

Aku belajar untuk menahan lidah, menahan dari perkataan yang menyakitkan, perkataan yang tercela, perkataan yang dengannya manusia tidak merasa aman dari kita…

Dan aku belajar, bahwa MENAHAN LIDAH ITU SEBAIK – BAIK & SEINDAH – INDAHNYA PELAJARAN.

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya” [6]

Ibnu Buraidah berkata: “Aku melihat Ibnu `Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, `Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal`.”[7]

Dan AKU BELAJAR dari perkataan seorang salaf…

“Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi“.[8]

Ya Rabb, kuatkan kami untuk mengamalkan semua kebaikan ini…

Kami khawatir hal ini…
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka.” [9]

…akan menimpa kami, tsumma NA’UDZUBILLAHI MIN DZALIIK.

Wahai rabb, jadikanlah lidah kami, lidah pembawa rahmat dan kesejukan bagi orang lain…

Jangan engkau jadikan lidah kami, lidah yang dengannya manusia murka, dengannya hati manusia tersayat dan dengannya manusia melaknat…

Jadikan lisan ini penghantar kami menuju jannahMu yang mulia…

……….

Tidak ada komentar: